Planet Kepri

Kepri Blogger Community

Archive for the ‘Jalan-jalan’


Jangan nyalip dari kiri

Hari ini sepertinya Tuhan memberiku peringatan. ‘Lebih Hati-hati di jalan’.

Sebenernya sih klo udah pamitan ama istri dan junior, dijalan bawaannya udah pake status AWAS.

Makanya sempet posting beberapa titik rawan kecelakaan di blog. Tapi kadang manusia terlupa. J

Nah kali ini, pas disimpang kara ketika lampu merah menyala. Seperti biasa kalo naek sepeda motor meliuk

Kanan dan kiri untuk dapet posisi sedekat mungkin ke lampu merah -untuk nantinya tancap gas-. Gak seperti biasanya –mungkin karena hujan-

Motor masih lumayan kenceng lalu ambil kiri untuk melewati metro trans. Dan tiba-2 pintu penumpang metro trans dibuka, hampir saja aku nabrak pintunya. Jantung langsung mo copot. Perasaan ngeri terbayangkan.

Lihat kebelakang lewat spion untuk tahu siapa gerangan yang tadi buka pintu, ternyata pintunya gak jadi dibuka. Ditutup lagi rapat-rapat.

Entah merasa bersalah atau juga takut membayangkan yang terjadi.

Akhirnya simpang kara terlewati.

Lalu seperti tidak ada kejadian apa-2 aku pacu karisma dan setelah 50 meter dari simpang kara secara gamblang aku lihat pengendara motor

Menabrak mobil sedan dari belakang. Dia sendirian dan cowok. Dia jatuh.

Kulihat dia tidak apa-2 dan sigap berdiri walopun terpincang dengan meninggalkan sepeda motornya di tengah jalan sambil mencoba mengejar mobil sedan yang ternyata berhenti. Aku berhenti dan membantu untuk memindahkan motornya ke pinggir jalan. Sambil teringat kalau ditempat inilah dulu aku pernah adu kuat dengan aspal. Terdengar kalimat ‘terimakasih’.

Kudengar dia bicara ‘kau ngerem mendadak’ dengan nada tinggi. Lalu terlihat si pengemudi sedan turun lalu menghampirinya.

Pengemudi sedan itu cowok keturunan tonghoa.

Setelah kuanggap semua oke-2 saja, aku pacu lagi karisma sambil melewati sedan tersebut dan melirik plat nomornya..BM2555XD..corolla

Hati-hati di lampu merah simpang poltek

Disiplin pengedara kendaraan di Batam ini sepertinya makin lama makin bobrok aja. Ini pengamatan pribadi lho terutama kedisiplinan untuk mematuhi rambu lalu lintas lampu merah, kuning dan hijau. Dan sebagai tempat pengamatan dan perbandingan adalah simpang lampu merah di simpang poltek (dulunya simpang frankie), simpang kara, simpang kabil dan simpang panbil.
Kesemua simpang tersebut diatas yang paling sering dilalui setiap hari saat mo berangkat dan tentunya juga pulang kerja.

Dari kesemua simpang tersebut, yang paling parah di simpang poltek. Seringkali kendaraan dan mayoritasnya sepeda motor nyelonong gitu aja dari arah simpang kara belok kanan ke kawasan industri hijrah/walakaka padahal itu lampu merah menyala dengan terangnya.

Yang aku herankan adalah apakah gak mikir nanti dari arah berlawanan yang notabene berlampu hijau akan lewat. Dan tentunya tabrakan akan terjadi. Juga dari arah kawasan industri hijrah/walakaka lurus ke arah perumahan anggrek sari, disini pengendara motornya lebih total dalam menerobos lampu merah.

Setelah diamati, ternyata dari kesemua simpang tersebut hanya simpang poltek yang tidak ada pos polisinya. Tapi mosok disiplin harus ada polisi dulu?, Kalo orang Jawa bilang mbok ya idep-idep demi keselamatan pribadi di jalan dan tentunya keselamatan orang lain juga setidaknya patuh dikit ama lampu lalu-lintas. Lampu itu khan buat ngatur kita di jalan bukan hiasan waktu tahun baru.

Jadi berhati-hatilah kalau melintas di simpang poltek. Walaupun sudah dapat signal lampu hijau, harus lihat depannya juga jangan-jangan ada yang mau ngadu motor/mobil.

Kalau sudah begini siapa yang rugi?

Part 1 : Ke Singapore Zoo


* Posting hari ini, mumpung nggak ngantor-cuti kecapekan-*
Demi memenuhi janji pada anak lanang tercinta, akhirnya jadi juga kami ke Singapore Zoo. Sebenarnya badan capek, hubby juga mesti nyiapin audit hari Seninnya. Apa boleh buat, yang namanya janji ya mesti dipenuhi, apalagi sudah beberapa minggu molor dari waktu yang kami janjikan.
Pagi buta, pukul 05.15 wib, setelah kami semua sarapan, hubby melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi terkontrol ke terminal ferry Batam Centre. Kami mengejar ferry pertama pukul 06.00 ke Singapura (“lain kali ikutan F-1 aja deh Pah”, kata Reza). Untung belum terlambat dan sudah di booked sejak kemarin sore. Kami pergi dengan ngoboy dan nggak sempat bawa oleh-oleh apapun untuk teman-teman di sana.
Reza nampak ceria sepanjang perjalanan di dalam ferry, asyik ngobrol dan poto-poto.
Sekitar 08.00 waktu Singapura kami sampai di Harbour Front . Setelah melalui pengecekan petugas imigrasi, kemudian kami mencari-cari Singapore Map diantara sekian banyak brosur tentang Singapore yang tersedia di sana. Dapat juga akhirnya. Kami masih blur dan tidak tahu jalan menuju ke Zoo. Sebenarnya sih sudah kami tanyakan ke beberapa teman Singaporean, tapi jawabannya lain-lain semua.

Secara aku tuh sudah hampir 4 tahun nggak nyebrang (hubby pun hanya transit doang di S’pore). Padahal dulu, aku pernah stay di S’pore selama satu bulan (th 1994 ), terus selanjutnya sering bolak balik ke S’pore urusan kerjaan, tapi lebih sering pergi pagi pulang malam alias nggak nginep, beberapa kali nginep bisa dihitung dengan jari satu tangan.
Dengan tekat bulat dan semangat layaknya turis bule yang melancong di negara kita, kami naik MRT (Mass Rapid Transit=sistem angkutan cepat berbentuk rel di Singapura) ke Outram Park. Rencananya sih dari sana kami hendak meneruskan perjalanan ke Boon Lay, Jurong East, Woodland baru naik bus ke Zoo. Tapi atas saran seorang petugas security di Outram Park, akhirnya kami langsung naik MRT lagi menuju Woodland. Katanya itu jalur paling pendek yang bisa ditempuh, perlu 38 menit sih dari Outram Park menuju ke Woodland. Untung tiket MRT yang kami beli tadi memang untuk sampai ke Woodland (Sin $ 3.1 per orang, sudah termasuk deposit $1).

Bergaya dulu deh di dalam MRT dan di lorong2 stasiun MRT :



Di Woodland sedianya kami mau meneruskan perjalanan ke Zoo dengan menggunakan bus no 926 (ini adanya cuma kalau Sunday dan holiday saja), tapi lama amir sih nunggunya, pukul 10.40 S’pore time bus tersebut baru akan nongol, sementara halte tempat nunggu bus agak panas, bikin kami kegerahan. Akhirnya kami change mind, keluar dari station tersebut, dan pergi naik taksi ke Zoo. Selisihnya dikit aja kok. Naik bus kan Sin $ 1.4 per orang, tiga orang berarti $Sin 4.2. Sementara menggunakan taksi hanya $ Sin 5.8.
Di gerbang Zoo kami ambil poto-poto dulu (lihat poto paling atas), biasa bakat narsisnya mulai keluar, dilanjutkan dengan membeli tiket untuk masuk ke Zoo, yaitu sebesar $Sin 16.5 untuk dewasa dan $Sin 11 untuk anak-anak. Ini tiket tanpa naik tram (semacam kereta untuk mengitari Zoo). Kalau naik tram masing-masing tambah $Sin 5. Namanya juga mau jalan-jalan, masak naik tram, nggak bisa mbrusuk-mbrusuk lihat hewan-hewan itu kuatirnya.
Dengan semangat 45 kami mengitari Zoo yang ternyata luas banget. Reza asyik melihat hewan-hewan yang ada , semua dipotretnya. Tapi cuaca kok panas bener, jadi sebentar-sebentar kami mencari tempat duduk untuk istirahat, minum dan makan roti selai yang kami bawa dari rumah.

Mesra di depan gajah (hayooo ini gajah beneran bukan?) :





Bergaya di depan saudara tua kita (alias mas monyet) :


Tiga jam mengitari Zoo, rasanya kaki ini sudah nggak tahan, cuapek tenan plus perut keroncongan.
O la la, sudah hampir pukul 13.30 pantes saja cacing cacing di perut menggeliat-geliat kepingin dikasih makan. Kami putuskan untuk makan di KFC di area Zoo, lumayan sambil ngedinginin badan (yang ada akhirnya aku dan Reza malah kedinginan, AC nya kuat bener sih). Selalunya KFC di sini tidak ada nasinya, jadi kami hanya makan ayam, salad, pure kentang dan minum es Milo. Lumayan sih , ternyata bikin kenyang juga.
Sekitar pukul 14.30 kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Orchad Road.
Secara aku, mbak Henny a.k.a Simbok, Fitta dan temenku Karen Tan sudah janjian sejak paginya untuk ketemuan di sana (kalau tahu rumah Simbok deket Zoo, kan mending aku ke sana ya mbok).
Kami berjalan menuju taxi stand di sana. Tapi oalah, nggak ada taxi yang berhenti di sana. Bersama kami ada dua orang cowok bule bersama anaknya juga menunggu taksi. Ada seseorang yang memberi tahu kami bahwa menunggu taksi sebaiknya di depan KFC saja, di sana ada banyak taksi untuk dinaiki walau tetep juga harus queue.
Kami dan si bule sama-sama menertawakan tulisan “taxi stand” di tempat kami menunggu tadi. Coba, buat apa sih dibikin papan tulisan disitu dan dibikin mirip halte kalau nggak dipakai? Akhirnya kami dan si bule jalan bareng ke antrean taksi di depan KFC. Si bule ramah banget pada kami, ngajak ngobrol, dan memberikan antrean untuk kami duluan (secara mereka tahu kalau kami lebih dulu ada di taxi stand sebelumnya).
Setelah dadah dadah sama si bule, kami lanjut bener deh ke Orchad Road.
*Poto-poto lain bisa dilihat di blognya Reza di sini*

Bersambung ke Part 2.